DISKRIMINASI & PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BAGI SASTRA INGGRIS
A.
DISKRIMINASI
Diskriminasi adalah tindakan yang
memperlakukan satu orang atau satu kelompok secara kurang adil atau kurang baik
daripada orang atau kelompok yang lain. Diskriminasi dapat bersifat langsung
atau tidak langsung dan didasarkan pada faktor-faktor yang sama seperti
premanisme dan pelecehan. Diskriminasi dapat dilakukan oleh individu, kelompok,
atau kebijakan dan praktik organisasi.
Dalam diskriminasi ada macam-macam bentuk diskriminasi yang terjadi dalam
kehidupan di antaranya :
1. Diskriminasi Umur
Individu di beri layanan yang tidak adil karena
beliau tergolong dalam lingkungan umur tertentu. Contohnya di negara malaysia
remaja senantiasa dianggap orang yang menimbulkan masalah sehingga timbul
istilah "Masalah Remaja"
2. Diskriminasi Gender
Individu di beri layanan yang tidak adil karena
gender mereka. Contoh seorang wanita menerima gaji yang lebih rendah dengan
lelaki sejawatnya walaupun sumbangan mereka adalah sama.
3. Diskriminasi Kesehatan
Individu diberi layanan yang tidak adil karena
mereka menderita penyakit atau kecacatan tertentu Contohnya seorang yang pernah
menderita sakit jiwa telah di tolak untuk mengisi jawatan tertentu, walaupun ia
telah sembuh dan mempunyai keupayaan yang di perlukan.
4. Diskriminasi Ras
Individu tidak di berikan layanan kesehatan karena
Ras.
5. Diskriminasi agama
Individu di beri layanan yang tidak adil
berdasarkan agama yang dianutnya.
6. Diskriminasi kaum
Tidak mendapatkan layanan yang sama rata dengan
kaum lain
Contoh
Diskriminasi :
JAKARTA,
KOMPAS.com — Identitas keberagaman di Indonesia
terus diuji dengan beragam tindakan diskriminasi. Selama 14 tahun setelah
reformasi, setidaknya ada 2.398 kasus kekerasan dan diskriminasi yang terjadi
di Indonesia. Yayasan Denny JA mencatat, dari jumlah itu paling banyak
kekerasan terjadi karena berlatar agama/paham agama sebanyak 65 persen.
Sisanya, secara berturut-turut adalah kekerasan etnis (20 persen), kekerasan
jender (15 persen), dan kekerasan orientasi seksual (5 persen).
"Semenjak reformasi, diskriminasi yang terjadi lebih bersifat priomordial, komunal, bukan seperti diskriminasi ideologi yang terjadi pada masa Orde Baru," ujar Direktur Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar, Minggu (23/12/2012), dalam jumpa pers di Kantor Lingkaran Survei Indonesia (LSI), di Jakarta.
Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, Yayasan Denny JA mendata setidaknya ada lima kasus diskriminasi terburuk pasca 14 tahun reformasi. Kelima kasus itu dinilai terburuk berdasarkan jumlah korban, lama konflik, luas konflik, kerugian materi, dan frekuensi berita. Setiap variabel diberikan nilai 1-5 kemudian dikalikan dengan bobot masing-masing variabel. Pembobotan skor 50 diberikan pada variabel jumlah korban, skor 40 untuk lamanya konflik, skor 30 untuk luas konflik, skor 20 untuk kerugian materi, dan skor 10 untuk frekuensi berita. Hasilnya, konflik Ambon berada di posisi teratas, yakni dengan nilai 750, kemudian diikuti konflik Sampit (520), kerusuhan Mei 1998 (490), pengungsian Ahmadiyah di Mataram (470), dan konflik Lampung Selatan (330).
"Lima konflik terburuk ini setidaknya telah menghilangkan nyawa 10.000 warga negara Indonesia," ucap Novriantoni.
Konflik Maluku menjadi konflik kekerasan dengan latar agama yang telah menelan korban terbanyak, yakni 8.000-9.000 orang meninggal dunia, dan telah menyebabkan kerugian materi 29.000 rumah terbakar, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintahan, dan 4 bank hancur. Rentang konflik yang terjadi juga yang paling lama, yakni sampai 4 tahun.
Sementara konflik Sampit yang berlatar belakang etnis, yakni antara Dayak dan Madura, telah menyebabkan 469 orang meninggal dunia dan 108.000 orang mengungsi. Rentang konfliknya pun mencapai 10 hari. Konflik kerusuhan di Jakarta yang terjadi pada 13-15 Mei 1998 juga tidak kalah hebatnya. Konflik ini menelan korban 1.217 orang meninggal dunia, 85 orang diperkosa, dan 70.000 pengungsi. Meski hanya berlangsung tiga hari, kerugian materi yang ditimbulkan mencapai sekitar Rp 2,5 triliun.
Konflik Ahmadiyah di Transito Mataram telah menyebabkan 9 orang meninggal dunia, 8 orang luka-luka, 9 orang gangguan jiwa, 379 terusir, 9 orang dipaksa cerai, 3 orang keguguran, 61 orang putus sekolah, 45 orang dipersulit KTP, dan 322 orang dipaksa keluar Ahmadiyah. Meski tidak menimbulkan korban jiwa yang besar, konflik ini mendapat sorotan media cukup kuat dan rentang peristiwa pascakonflik selama 8 tahun yang tak jelas bagi nasib para pengungsi.
Konflik kekerasan yang terjadi di Lampung Selatan telah menimbulkan korban 14 orang meninggal dunia dan 1.700 pengungsi. "Secara keseluruhan, negara terlihat mengabaikan konflik-konflik yang sudah terjadi pelanggaran HAM berat. Dalam beberapa kasus bahkan tidak ada pelaku atau otak pelaku kekerasan yang diusut," katanya
"Semenjak reformasi, diskriminasi yang terjadi lebih bersifat priomordial, komunal, bukan seperti diskriminasi ideologi yang terjadi pada masa Orde Baru," ujar Direktur Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar, Minggu (23/12/2012), dalam jumpa pers di Kantor Lingkaran Survei Indonesia (LSI), di Jakarta.
Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, Yayasan Denny JA mendata setidaknya ada lima kasus diskriminasi terburuk pasca 14 tahun reformasi. Kelima kasus itu dinilai terburuk berdasarkan jumlah korban, lama konflik, luas konflik, kerugian materi, dan frekuensi berita. Setiap variabel diberikan nilai 1-5 kemudian dikalikan dengan bobot masing-masing variabel. Pembobotan skor 50 diberikan pada variabel jumlah korban, skor 40 untuk lamanya konflik, skor 30 untuk luas konflik, skor 20 untuk kerugian materi, dan skor 10 untuk frekuensi berita. Hasilnya, konflik Ambon berada di posisi teratas, yakni dengan nilai 750, kemudian diikuti konflik Sampit (520), kerusuhan Mei 1998 (490), pengungsian Ahmadiyah di Mataram (470), dan konflik Lampung Selatan (330).
"Lima konflik terburuk ini setidaknya telah menghilangkan nyawa 10.000 warga negara Indonesia," ucap Novriantoni.
Konflik Maluku menjadi konflik kekerasan dengan latar agama yang telah menelan korban terbanyak, yakni 8.000-9.000 orang meninggal dunia, dan telah menyebabkan kerugian materi 29.000 rumah terbakar, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintahan, dan 4 bank hancur. Rentang konflik yang terjadi juga yang paling lama, yakni sampai 4 tahun.
Sementara konflik Sampit yang berlatar belakang etnis, yakni antara Dayak dan Madura, telah menyebabkan 469 orang meninggal dunia dan 108.000 orang mengungsi. Rentang konfliknya pun mencapai 10 hari. Konflik kerusuhan di Jakarta yang terjadi pada 13-15 Mei 1998 juga tidak kalah hebatnya. Konflik ini menelan korban 1.217 orang meninggal dunia, 85 orang diperkosa, dan 70.000 pengungsi. Meski hanya berlangsung tiga hari, kerugian materi yang ditimbulkan mencapai sekitar Rp 2,5 triliun.
Konflik Ahmadiyah di Transito Mataram telah menyebabkan 9 orang meninggal dunia, 8 orang luka-luka, 9 orang gangguan jiwa, 379 terusir, 9 orang dipaksa cerai, 3 orang keguguran, 61 orang putus sekolah, 45 orang dipersulit KTP, dan 322 orang dipaksa keluar Ahmadiyah. Meski tidak menimbulkan korban jiwa yang besar, konflik ini mendapat sorotan media cukup kuat dan rentang peristiwa pascakonflik selama 8 tahun yang tak jelas bagi nasib para pengungsi.
Konflik kekerasan yang terjadi di Lampung Selatan telah menimbulkan korban 14 orang meninggal dunia dan 1.700 pengungsi. "Secara keseluruhan, negara terlihat mengabaikan konflik-konflik yang sudah terjadi pelanggaran HAM berat. Dalam beberapa kasus bahkan tidak ada pelaku atau otak pelaku kekerasan yang diusut," katanya
Pada dasarnya diskriminasi tidak terjadi begitu
saja, akan tetapi karena adanya beberapa faktor, antara lain:
a. Adanya
persaingan yang semakin ketat dalam berbagai bidang kehidupan.
b. Adanya
tekanan dan intimidasi yang biasanya dilakukan oleh kelompok yang dominan
terhadap kelompok atau golongan yang lebih lemah.
c. Ketidak
berdayaan golongan miskin akan intimidasi yang mereka dapatkan membuat mereka
terus terpuruk dan menjadi korban diskriminasi.
B.
Perkembangan
Teknologi bagi Ilmu Sastra Inggris
Seperti
yang kita ketahui, seiring berjalannya waktu, penyebaran globalisasi semakin
berpengaruh ke berbagai Negara. Indonesia pun termasuk negara yang sangat mudah
menerima penyebaran globalisasi tersebut. Pada zaman yang semakin modern ini,
sastra inggris ataupun bahasa inggris sangat berpengaruh sekali di berbagai
negara. Karena bahasa inggris sudah dianggap sebagai bahasa internasional. Dengan
begitu perkembangan teknologi di Indonesia juga sangat saling berpengaruh
dengan bahasa inggris.
Contohnya
: banyak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan dengan adanya salah satu
persyaratan yaitu menguasai bahasa asing (bisa bahasa inggris, mandarin, atau
jepang, dll). Selain itu, mulai banyak juga dibukanya lapangan pekerjaan dalam
bidang sastra inggris seperti kepariwisataan, perhotelan, penterjemah dll.
Bahkan,
perkembangan teknologi juga sangat membantu perkembangan sastra inggris di Indonesia.
Contohnya : saat seorang lulusan sastra inggris ingin melamar pekerjaan di
sebuah perusahaan asing, ia bisa dengan mudah mencari info lowongan pekerjaan
dari internet, social media, surat kabar dll. Bahkan saat ia akan mengirimkan
data-data untuk melamar pekerjaan pun, ia bisa dengan mudah menggunakan e-mail
untuk mengirim data tersebut. Dan ia bisa dengan santai menunggu panggilan dari
perusahaan tersebut baik ia terima via telpon maupun balasan e-mail.
Dengan
adanya persyaratan dan banyaknya lapangan pekerjaan dalam bidang sastra inggris
tersebut, sudah terbukti bahwa perkembangan teknologi bagi bahasa inggris
maupun sastra inggris sudah sangat pesat di negara Indonesia ini. Bahkan untuk
para mahasiswa/i yang saat ini sedang menempuh perkuliahan dalam jurusan sastra
inggris pun semakin merasa lega karena jika mereka sudah sarjana nanti, mereka
bisa dengan mudah mencari info lowongan pekerjaan sesuai dengan latar belakang
pendidikan mereka sendiri.
Sumber :
3. http://nasional.kompas.com/read/2012/12/23/15154962/Lima.Kasus.Diskriminasi.Terburuk.Pascareformasi
Nama : Lisa Octaviani Wijaya
Kelas :
2SA10
NPM : 16614106
Matkul :
Ilmu Sosial Dasar
Dosen :
Maria Chrisnatalia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar